Tampilkan postingan dengan label MY OPINION. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MY OPINION. Tampilkan semua postingan

11 Oktober 2016

Teman Ngaji

11 Oktober 2016

 

Setelah saya menikah, salah satu yang sering Aya ingatkan ke saya adalah agar saya mengikuti pengajian. Buat nge-charge iman saya katanya. Karena menurutnya lagi, kami (saya dan Aya) butuh ilmu yang banyak dalam mengarungi rumah tangga kami (*cihuy banget ya bahasanya hahaha) Dan Aya ngerasa ilmu yang paling penting untuk mengarungi bahtera rumah tangga kami itu ga cuma ilmu dunia aja, tapi yang lebih penting lagi menurutnya adalah ilmu agama.

 

Dalam hal itu saya setuju banget dengan Aya, dunia penting dan akhirat juga lebih penting. Kita kan ga selamanya hidup di dunia kan? Jadi ikut pengajian itu OK OK aja menurut saya. Lagian sebelum saya menikah saya juga pernah ikut pengajian kok, walaupun akhirnya berhenti karena kesibukan masing-masing anggotanya. Tapi ga tau juga kenapa kalau sekarang alasannya bukan sibuk lagi, tapi malas hehehe >:))

 

devimairani.blogspot.com 23

 

Berhubung kalau saya bukan istri yang mudah langsung nurut kalau Aya ngomong, maka seperti biasa saya ngeles buat alasan ke Aya (*tidak untuk ditiru ya pemirsah hehehe) Biasanya jawaban saya "ntar..." "nanti..." "ihhh ga ada teman ngaji" dan bla bla bla... Semakin Aya ngingatin semakin saya cari alasan. Saya ngaku lah dalam hal ini saya ga pantas buat dijadiin contoh hehehe…

 

Alasan saya itu sebenarnya beralasan (menurut saya sih ya hehehe… ), karena saya pikir walaupun ga ikut pengajian/liqo kaya begitu tapi saya selalu menyempatkan diri mendengarkan tausiyah dari internet. Bahkan sering kali saya sengaja men-save tausiyah yang saya dengar dari internet itu untuk kemudian saya dengarkan kembali, hampir tiap hari malah. Misalnya pas saya lagi masak…

 

10 Oktober 2014

Cantik itu…

10 Oktober 2014
Bismillah… Siapa yang ingin terlihat cantik? Hayooo angkat tangannya =D… Rasanya semua wanita ingin terlihat cantik ya? Ya, ya, ya… Wajar aja sih, karena cantik kan memang dambaan setiap wanita (*termasuk sayah)          


Tak jarang wanita berlomba-lomba untuk menjadi yang tercantik. Tak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan. Make up, perawatan dan segala pernak pernik kecantikan begitu menjadi perhatian yang lebih bagi wanita (kaya’nya ini rada2X aku juga sih ihiksss…)


Sampai-sampai banyak sekali kontes-kontes kecantikan yang diadakan, tidak hanya di luar negri tapi juga di dalam negri. Dan katanya banyak wanita cantik yang mengikuti, padahal kan cantik ga’ ada parameternya, cantik itu relatif!!! 



************


Beautiful3[1](sumber: Internet)


Yup, pernah ga’ sih kita sadari ternyata memang cantik itu ga’ ada ukuran pastinya. Ada yang bilang kulit putih mulus itu cantik, tapi ga’ sedikit juga yang bilang kalo kulit eksotis hitam manis itu yang cantik. Dan jujur aja ya, aku juga ga’ punya patokan jelas tentang wanita cantik. Karena memang menurutku semua wanita itu cantik ;) 


Rasanya begitu juga dengan kontes-kontes-an tersebut, walaupun menurut mereka cantik harus memiliki beauty, behaviour dan brain tapi tetap aja parameter yang dijadikan patokan ga’ jelas. Kenapa ga’ jelas? karena menurutku ketiga hal itu bersifat relatif! Tergantung dari penilaian masing-masing personal dan pastinya itu ga’ akan pernah sama. Betul ga’? ;)


images (3)[1](sumber: Internet)


Yang adanya secara ga’ langsung wanita-wanita cantik itu sudah menjadi tontonan bagi khalayak umum. Apalagi seringkali yang dipertontonkan itu ga’ hanya wajah tapi juga sebagian anggota tubuh yang seharusnya ditutupi =(( (*istigfar)


Tambah sedih lagi ternyata banyak wanita yang tidak menyadari hal itu atau mungkin juga pura-pura tidak sadar. Malah tak jarang sebahagian wanita menjadi bangga dan menjadikan kecantikan sebagai obsesi, tak peduli apakah hal yang dilakukannya tersebut halal atau haram (khususnya buat wanita yang muslimah ya…)    


Padahal tampil cantik di setiap tempat dan mengumbarnya akan mengundang kegembiraan setan loh (serem yakkk?…)  Selain itu kecantikan yang terlalu dipertontonkan akan mendatangkan fitnah dan bencana, bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga bagi orang lain yang melihat.


gambar-kartun-muslimah-555x530[1](sumber: Internet)


Udah sering banget kan zaman sekarang ini kita dengar tentang terjadinya tindakan asusila kaya’ rape case dan pelecehan seksual *sedih. Memang sih, ga selamanya salah di wanita ya, tapi sebaiknya sebagai seorang wanita muslim kita harus lebih intropeksi dan berhati-hati dalam hal ini. Seperti di dalam sebuah hadist, Rasulullah Saw sudah mengingatkan: “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah (ujian/godaan) yang lebih dahsyat bagi para lelaki selain fitnah wanita” (HR Muttafaqun ‘alaih)


22 September 2014

Seberapa Ikhlaskah Diri Kita?

22 September 2014
Seringkali ya kita merasa udah banyak melakukan perbuatan baik dan hal-hal baik lainnya. Dan sering kali juga kita mengatakan bahwa kita melakukan hal tersebut dengan rasa ikhlas. Padahal penilaian terhadap diri sendiri seringkali tidak berdasarkan realita bahkan cendrung subjektif, karena sifat dasar manusia cendrung lebih bisa melihat keburukan orang lain daripada diri sendiri.


Memang, tidaklah mudah untuk bisa menilai diri sendiri dengan objektif, karena hal itu berhubungan dengan kebersihan hati. Hati yang bersih lebih bisa melihat cacat diri daripada cacat orang lain karena ia lebih melihat ke hal-hal yang tidak hanya terlihat oleh pandangan mata saja tapi jauh lebih melihat ke dalam hati yang paling dalam.




Orang yang objektif pada diri sendiri tentu tak akan pernah mengatakan dirinya sudah ikhlas dalam berbuat dan bertindak. Hal karena ia menyadari bahwa penilaian yang diberikan untuk diri sendiri itu otomatis tidak valid.


Penilaian yang valid tentu saja penilaian yang dilakukan oleh orang lain kepada diri kita. Karena penilaian orang lain tidak berdasarkan ke-ego-an semata sehingga penilaian tersebut cendrung benar.
Kenapa cendrung benar dan tidak absolute kebenarannya, hal ini tentu saja karena manusia bukanlah sosok yang sempurna sehingga mampu memberi penilaian yang hakiki.


Ada Dzat yang maha melihat, maha mengetahui tentang sejatinya diri kita. Dzat yang sesungguhnya mengetahui apa dan bagaimana diri kita sebenarnya. Dzat yang tak pernah bisa ditipu daya. Dzat yang lebih dekat dari urat leher kita.


Jadi hanya dia yang hanya bisa menilai keikhlasan setiap dari manusia. Bukan diri kita sendiri, bukan orang lain, hanya Allah Swt saja!!!

18 Agustus 2014

Semangat Berhijab Syar’i

18 Agustus 2014
Sejak setahun lalu keinginan untuk bisa memakai hijab yang syar’i sudah begitu kuat di hatiku, tapi entah kenapa ada saja kendala dan halangannya. Yang karena takut ga’ istiqomahlah, takut ga’ bisa lincahlah, sampe mikir blom punya banyak stock baju gamis. Aneh banget kan alasannya. Alasan yang dibuat-buat! Dan alasan itu sepertinya cuma alasan ga’ jelas yang ngebuat aku nge-excuse niat baikku. Padahal hatiku sudah berkali2X meronta (wowww bahasaku) =)) meminta untuk dilaksanakan.



Memang, sejak awal dulu pake jilbab pun aku ga’ pernah mau berpakaian yang  ketat-ketat, alasannya? aku suka risih kalo berpakaian seperti itu. Kaya jadi perhatian orang lain, padahal ga’ ada juga orang lain yang merhatiin x))



Sedangkan untuk jilbabnya, aku  juga ga pernah make jilbab yang neko-neko, dari dulu ya gitu-gitu aja, model jilbab paris segiempat, ga’ pernah di model2Xin karena aku suka merasa aneh tiap kali aku ngerubah model jilbabku. Poko’nya  semuanya serba biasalah ^^


Tapi seiring waktu, aku pun ingin memakai hijab yang sebenarnya, hijab syar’i seperti yang sudah dijelaskan di dalam Al-Qur’an. “Wahai Nabi, katakanlah kepada kepada istri-istrimu dan anak-anak perempuanmu, dan istri-istri kaum mukminin, hendaknya mereka memanjangkan jilbab mereka ke seluruh tubuh. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, dan karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Ahzab:59)






Jadi aku merasa jilbab yang kupakai ini blom masuk kategori jilbab syar’i (tapi juga bukan jilbab gaul loh ya) (--") seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas. Jilbab yang ku pake ini blom seperti akhwat2X gitu, cuma jilbab STD (dibaca: standart) kalo ku bilang…



Aku sering banget ngiri kalo ngeliat akhwat-akhwat yang memakai hijab yang syar’i, yang ada dipikiranku, kapan aku bisa kaya mereka? Kalo pas berpapasan dengan mereka pasti aku merhatiin, menurutku mereka itu anggun banget. Aku suka senyum2Xin mereka, berharap satu hari nanti aku juga bisa berhijab kaya mereka (lah, apa hubungannya coba?) Tapi walaupun senyum-senyum gitu, sebenarnya hatiku terluka loh (senyum dalam luka ceritanya jiaaahhhhh) =)) aku merasa imanku tak sebaik akhwat-akhwat yang berhijab syar’i itu, itu faktanya – __ –



Mereka itu sepertinya udah bagus banget iman dan takwanya, sementara aku? masih pletang pletong ga’ jelas. Buat mempertahankan hijab yang begini aja aku masih berat, suka ngeluh. Contohnya ya, aku kalo udah di rumah/kamar pasti jadi males keluar lagi karena kalo udah di rumah/kamar aku ga’ make jilbab, padahal kadang ada yang mengharuskan aku untuk keluar rumah. Kalo udah begitu aku jadi suka milih ga’ keluar rumah atau merasa terpaksa make jilbab lagi kalo keluar rumah. Dan ujung-ujungnya aku ngeluh “ribet ya berjilbab?” – _ –

14 Maret 2014

Yahhhhh mati lampu lagi…..

14 Maret 2014
mati lampu


Entah ada apa dengan PLN di kotaku, hampir setiap hari pasti aja mati lampu, padahal ga ada angin, ga ada petir dan ga ada hujan juga. Parahnya mati lampu seharinya bisa 2-3 kali, udah kaya minum obat aja kan? tapi ya begitulah…


Ga asiknya setelah diperhatikan kalau mati lampunya itu selalu pas saat azan magrib tiba. Jadi muazin baru ngomong “Allahu Akbar… Allahu Akbar” jpretttt mati deh lampu. Trus azannya jadi ga kedengaran karena listrik mati dan mic-nya jadi ga berfungsi. Tentu aja banyak warga yang kesal, ga liat sikon banget ya om PLN, mbok ya setelah azan gitu baru dimatiin. Kok kaya ga punya perasaan gitu sih…


Dan karena keluhan tertulis masyarakat ga ditanggapi, ya jadinya gitu, om PLN kena demo. Taulah kalau demo dimasyarakat kita, ga cukup dengan bawa-bawa poster tapi pake teriak-teriak, maki-maki dan lempar-lemparan. Tentu semakin banyak kerugian, padahal PLN ngakunya merugi karena trus mengsubsidi. Orang yang awam kaya aku memang ga’ paham ya hitung-hitungannya, tapi apa PLN ga mikir, kita kan juga rugi…


Menurutku kejadian begini ga akan terjadi kalau pemerintah mau terbuka ke masyarakat. Tentu saja dengan memberikan hitung-hitungan pemakaiannya kepada publik. Kalau memang benar merugi nanti masyarakt juga bisa mengerti kok. Aku memang bukan engineer ya, tapi paling tidak kalau pemerintah terbuka dengan masalah PLN ini masyarakat nanti juga akan paham dan mungkin jadi sama-sama mencari solusi. Tapi kalau pemerintah cuma bilang rugi dan rugi tapi ga mau nunjukin hitung-hitungannya mana mungkin rakyat percaya. Masyarakat pasti mikirnya ya di….. (jawab sediri aja)


Masalahnya pemerintah kita ga mau belajar dari negara tetangga kaya Singapura. Pemerintah Singapura hampir ga pernah di demo karena keterbukaannya pada rakyat. Dari saudara yang udah jadi warga negara sana aku dapat cerita kalau pemerintah Singapura cukup terbuka sehingga tidak menimbulkan mispresepsi antara pemerintah dan rakyatnya. Itulah sebabnya kenapa oposisi kurang jadi favorite di sana. Beda banget kan dengan kita di sini.


Jadi aku merasa krisis listrik ini akan tetap berlangsung lama, ya selama pemerintah tidak mau jujur dan terbuka. Tapi mau ngarap pemerintah kita kaya pemerintah Singapura juga mimpi ya kaya’nya. So, rakyat jalani aja!!!…



An ordinary woman © 2014